TKI KU SAYANG HP TIDAK BISA DIBAWA PULANG KARENA PERATURAN YANG MENGHADANG,

journalntb.com
MATARAM –- Nasib sial harus diterima para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pulang kampung, setelah merantau dari berbagai negara di dunia. Berniat untuk membawa oleh-oleh berupa telepon genggam atau hand phone (HP) untuk sanak saudara di kampung halaman, namun oleh-oleh tersebut terpaksa kandas di pintu masuk Bea Cukai untuk disita.

Selama tiga bulan, dari September hingga November tahun 2016, sedikitnya 1.685 unit HP  milik TKI yang dibawa pulang ke Provinsi NTB disita aparat bea cukai. Jumlah tersebut bisa jadi melampaui 2.000 unit hand phone milik TKI asal NTB yang disita sejak diberlakukan penyitaan HP  yang dibawa TKI melebihi dua unit saat terdata di bea cukai Bandara Internasional Lombok (BIL) sejak bulan Juni hingga Desember 2016. Hanya saja yang disampaikan oleh pihak Bea Cukai saat pertemuan dengan Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Senin kemarin (16/1) sejak September hingga November 2016, HP milik TKI yang disita sebanyak 1.658 unit.

Pertemuan yang digelar Dinas Perdagangan Provinsi NTB dengan menghadirkan pihak Bea Cukai tersebut untuk mencarikan solusi terkait keluhan mantan TKI yang barang bawaan mereka, utamanya HP disita oleh Bea Cukai di bandara saat mereka pulang ke kampung halaman. "Banyak sekali para mantan TKI yang barang bawaan HP mereka disita oleh Bea Cukai, datang meminta barang mereka untuk dikembalikan. Karena itu, kami mengundang pihak Bea Cukai untuk membahas solusi apa yang bisa diberikan, agar tidak merugikan mantan TKI ini," kata Kepala Bidang PLN Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq Hudayani.

Penertiban barang bawaan TKI yang pulang kampung, khususnya telepon seluler oleh Bea Cukai berpijak dengan aturan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 38 tahun 2013 sebagai revisi dari Permendag Nomor 82 tahun 2013 tentang impor barang telepon seluler, komputer genggam dan tablet. Dimana dalam Permendag tersebut membatasi setiap orang TKI hanya boleh membawa masuk maksimal 2 unit telepon seluler ke dalam negeri. Jika lebih dari dua unit, maka Bea Cukai harus melakukan penyitaan.

Dalam pertemuan tersebut, pihak Dinas Perdagangan Provinsi NTB meminta ada keringanan (relaksasi) bagi mantan TKI asal NTB yang barang bawaan mereka seperti HP disita di BIL oleh pihak Bea Cukai. Hanya saja, pihak Bea Cukai mengakui belum bisa memberikan keringanan untuk mengembalikan barang sitaan tersebut kepada pemiliknya.

Hudayani berharap agar masyarakat termasuk TKI bisa mengetahui peraturan pembatasan membawa telepon genggam dari luar negeri itu maksimal dua unit, maka pihaknya minta kepada Bea Cukai Mataram bisa mensosialisasikan kepada masyarakat melalui baliho di tempat strategis. Hal tersebut nantinya bisa diketahui oleh keluarga TKI dan kemudian memberitahukan kepada keluarga yang menjadi TKI untuk membatasi membawa telepon seluler saat pulang kampung.

Dengan demikian, TKI yang telah bersusah payah dan banting tulang bekerja diluar negeri harus terpaksa menelan pil pahit, karena barang bawaan oleh-oleh untuk keluarga mereka di kampung harus disita oleh Bea Cukai Mataram.

Nurul salah satu TKI yang baru pulang dari timur tengah mengatakan sangat kecewa dengan peraturan ini,bagi mana tidak hasil dari bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang jauh harus HP bawaan nya disita oleh pihak bandara,oleh oleh yang harus sampai ke tangan keluarga nya harus kandas karna peraturan itu," saya kecewa pak HP yang susah payah saya beli harus saya serahkan ke pihak bea cukai,kami rela jadi babu pak untuk dapat tingkatkan ekonomi kami,coba kalau kami dirumah terus jangankan untuk beli HP untuk makan saja susah kata nya,
Negara harus berterima kasih pada kita sebagai pahlawan devisa dengan peraturan ini kami sangat sangat merasa dirugikan tandas nya,

Hal serupa juga dikatakan oleh Budin TKI Malaysia Asal Lombok timur,"kami kecewa pak HP yang saya beli untuk anak saya harus disita ada apa ini,kata nya,,jangan dong menyusahkan kita aja sebagai masyarakat,ini kami beli dengan hasil keringat saya pak hasil dari kami potong sawit tandas nya,

Dari hasil telusur media ini para TKI sangat merasa dirugikan harapan dari pahlawan devisa ini agar ada jalan alternatif untuk mereka supaya TKI jangan jadi korban,

(Rois)

0 komentar:

Posting Komentar