Pulau Lombok Kepingan Syurga yang Telah Terjual



JOURNAL NTB Lombok Tengah : Sejak beberapa tahun terakhir, kawasan pantai yang sekarang di sebut Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok. Ibarat, bidadari cantik yang terus-menerus dibincangkan para traveler dan penikmat wisata dunia. Pulau ini dianggap bisa memuaskan hasrat penikmat senja, hasrat untuk menyelam, dan hasrat menemukan pemandangan bawah laut yang menakjubkan.

Beberapa bulan yang lalu ketika Presiden Jokowi datang pada saat acara hari Pers, pada BUMN Indonesia Tourism Development Coprporation
(ITDC) pemegang wisata ini secara nasional berjanji tidak akan usir masyarakat sekitar pantai dan memberi solusi dengan cara memakaikan mereka pakaian adat agar lebih humanis dengan para tamu yang berdatangan dari berbagai daerah dan tamu Kedubes berbagai negara, namun masyarakat sekitar hari hanya menyaksikan penyu bibir pantai harus berurusan dengan orang dari luar pemilik proyek wisata.

Apa dari pemerintah menyerah melakukan pembinaan dan pendekatan kepada masyarakat, sehingga mereka mengamuk dengan papan larangan, dalam bahasa Sasak "Ndek Te Kanggo Bejual Lek Wilayah Pantai Kute" artinya masyarakat sekitar di larang berjualan. Kini penikmat utuh pulau Lombok sendiri telah terjual 

Beberapa orang mengatakan bahwa pulau ini lebih kondang dari Bali yakni bak pulau perawan. Bersama pulau-pulau lain seperti Gili trawangan, Gili Meno, Gili Air, dan Gili-gili lainnya. Pulau Lombok, gugusan pulau ini adalah zamrud di bumi khatulistiwa yang digandrungi banyak kalangan. Arus wisatawan meningkat. Banyak orang lalu menanam mimpi untuk ke pulau ini. Mereka membayangkan bagaimana indahnya pantai pasir putih, laut biru, serta penyu hijau yang berenang di sekeliling.

Tapi sayang sekali sekarang pulau kepingan syurga ini. Ternyata, sudah menjadi rumah bagi orang-orang berdasi kapitalisme. Kapitalis ini memang dikenal sebagai pengelana wisata laut baru. Mereka punya filosofi bahwa wisata laut adalah rumah bagi siapapun yang bisa didatangi dan dikunjungi kapan saja. Mereka bebas tinggal di pesisir manapun, khususnya yang tak pernah dikunjungi manusia lain.

Orang-orang dan masyarkat sekitar yang kusaksikan sekarang sedemikian ramah dan bersahabat. Mereka menawarkan senyum tulus serta persahabatan pada siapapun yang datang. Mereka bersedia menjadi tour guide, mendemonstrasikan kemampuan berenang bersama penyu-penyu hijau di pesisir pulau, serta bersedia menawarkan rumahnya menjadi tempat berdiam selama beberapa waktu.

Di tengah keramahan itu, ada semacam getir yang merekah. Para sahabat Suku Sasak penghuni pantai ini hanya menjadi penonton dari dinamika wisata yang didominasi oleh pemerintah, pengusaha wisata, serta para pelancong dari berbagai tempat. Orang-orang Sasak hari ini tak pernah diajak untuk merumuskan hendak ke mana nasib pulau mereka. Tak ada informasi tentang rencana atas perkampungan itu. Jangan-jangan mereka akan disingkirkan oleh berbagai resort mewah yang tumbuh bak jamur di pulau itu.

Saya pernah melihat seorang nelayan tua duduk sambil merokok di tepi bibir pantai kute. Aku lalu singgah dan menemaninya berbincang. Matanya menerawang saat menunjuk berbagai resort mewah di kejauhan. "Dulu, saya menambatkan perahu di ujung sana. Tapi sejak helipad dan resort mewah berdiri, saya dilarang ke situ," katanya risau.

Pariwisata memang surga bagi sebagian orang. Tapi bagi yang lain, pariwisata adalah bapak tua kejam yang suka membatasi gerak. Entah sejak kapan wacana pariwisata mulai menjalar, namun dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang datang ke pulau ini untuk sekadar menikmati pasir putih dan senja temaram. Yang ingin dicari orang-orang itu adalah alam yang perawan, molek, dan menantang. Informasi tentang Derawan beredar di media massa asing serta situs para traveler.

Sementara para "pemilik pantai ini sekarang" itu hanya menjadi menyaksi. Mereka yang dahulunya bebas menambatkan perahu, mencari ikan, serta bertualang di laut di atas perahu kecil kian terbatas ruang geraknya. Demi pariwisata, sejumlah ikan kecil yang dahulunya menjadi penyangga hidup tak bebas lagi ditangkap. Demi pariwisata mereka harus menyaksikan berbagai orang baru yang datang sambil membawa perlengkapan selam. Mereka harus menyaksikan bule-bule berbikini yang angkuh kala melewati pemukiman penduduk.

Mereka tak punya ruang untuk menyatakan protes. Mereka bisa dianggap tak paham wisata. Mereka bisa dituduh menghambat program pemerintah yang hendak mempromosikan pulau hingga mancanegara. Barangkali, ketika wisata tumbuh pesat, mereka bisa dianggap sebagai sampah yang mencemari pulau. Kelak mereka bisa terusir oleh dibangunnya berbagai fasilitas mewah demi memanjakan para pendatang dari negeri-negeri yang jauh.

Padahal, merekalah pemilik sah pulau ini yang tak pernah disebut namanya dalam berbagai brosur pariwisata. Yang ditampilkan selalu tentang penyu, laut biru, pasir putih, serta pemandangan menawan. Masyarakat tak pernah dianggap sebagai komponen penting yang seharusnya menjadi daya tarik utama bagi pariwisata itu sendiri. Padahal, sejak ratusan tahun silam, mereka mendiami pulau, beranak-pinak, lalu membentuk peradaban maritim di situ. Hari ini mereka hanya menjadi penonton dari deru laju industri pariwisata.

Aku lalu menelusuri jalan-jalan kampung sekitar kute. Di sudut lain, kampung yang kusaksikan ini dipenuhi aktivitas terkait laut seperti nelayan yang sedang membersihkan perahu, istri nelayan yang menenun jaring, anak-anak nelayan yang bermain di genangan-genangan kecil di dekat rumah, ataupun anak-anak muda yang berbincang di bawah pohon sembari memandang lautan lepas. Anak-anak nelayan itu kehilangan hasrat kuat untuk meneruskan marwah dan tradisi bahari orang tuanya.

Nampaknya, perkampungan di pulau ini hendak berkembang serupa kota. Rumah-rumah dikemas menjadi homestay. Penduduk yang 'gantung perahu', berhenti melaut lalu fokus untuk menjadi pekerja kecil di sektor pariwisata, hingga anak-anak yang suka bersorak kala menyaksikan seorang bule berbikini sedang melintas. Di depan beberapa rumah, terdapat penyewaan sepeda serta toko-toko cenderamata.

Tentu saja, pariwisata harus dilihat pengungkit kekuatan ekonomi masyarakat. Hanya saja, pertanyaan yang kemudian mencuat adalah bagaimana bisa tetap menjaga tradisi dan budaya bahari masyarakat agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh berbagai mimpi untuk menjadi seperti para pelancong. Pariwisata harusnya menjadi penyelamat dari berbagai tradisi lokal serta dunia ekologi bahari orang Derawan sehingga bisa diwariskan ke anak-anak cucunya.

Penulis : Saiful Hadi 
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Sasak Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar