Pimpinan Idaman Bangsa Indonesia"Tulisan Peternak Sapi,Bagian ke 2

Kondisi ideal Indonesia hanya bisa menyelesaikan masalah yang ada, tetapi kondisi ideal hanya bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia. Bagi pemimpin yang mahir dan terlatih dalam kepemimpinan, setiap kesulitan memiliki solusi dan dapat diselesaikan. Pemimpin yang memiliki keahlian yang cukup tidak akan pernah beralasan karena masalah-masalah negara sudah terlalu rumit dan komplikatif. Dalam hal ini, Indonesia memerlukan satu sosok pemimpin yang spesialis generalis, yaitu sosok yang di sebelah ahli di bidang yang ia tekuni, ia juga mahir dalam hal-hal yang lain. Dengan demikian, sosok tersebut akan siap dihadapkan dengan perdebatan apapun dan dengan perbantahan. Ia akan menjadi solusi, bukan pencipta masalah

Keadaan yang kerap melanda Indonesia saat ini adalah orang besar yang meminta atau mengklaim dirinya sebagai ahli tetapi tidak dapat diselesaikan di bidangnya. Sebagai contoh adalah seorang sarjana ekonomi yang masih bingung dengan ekonomiinya sendiri, atau seorang mubaligh yang menyerukan " Laa takhof walaa tahzan innallaaha ma'ana", Satu kutipan ayat al-Qur'an yang berarti," Jangan takut dan jangan bersedih karena sungguh Allah bersama kita ", tetapi orang yang mengatakan hanya harus dikawal oleh sekuriti jika bepergian keluar rumah. Ada pengetahuan yang belum bisa dipraktikkan. Jika ini terus terjadi, ilmu pengetahuan itu berkembang, tetapi malah mundur. Di era yang penuh dengan tantangan saat ini, perkembangan pengetahuan harus selaras dengan perkembangan zaman. Tantangan yang terjadi di Indonesia saat ini sudah sangat rumit, di samping tekanan internal dari masyarakat Indonesia sendiri, Indonesia juga harus menjadi negara yang dapat bersaing di tingkat internasional. Berkaitan dengan demikian, pemimpin idaman bangsa Indonesia harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dipahami,

Dalam dunia politik saat ini, transisi yang ada hanya memilih yang dipilih pemimpin yang sudah benar-benar kuat dengan politik. Kekuatan politik yang dibutuhkan seseorang tidak sesuai dengan pengetahuannya dan keahlian untuk mengendalikan negara Indonesia yang besar. Hubungan perpolitikan saat ini masih terpilih sebagai pemimpin yang kurang kompeten dalam kepemimpinan. Sebab, kekuatan politik yang dibangun dengan perlindungan yang masih memberikan ruang untuk mereka yang tidak tergerak atas dasar kecukupan ilmu dan kesadaran, tersedia tergerak atas dasar koordinasi (hasrat) untuk kekuasaan. Dalam hal ini, penulis tidak mengatakan bahwa setiap pemimpin yang dihasilkan dari hubungan yang ada adalah pemimpin yang tidak berkualitas. Hanyasanya, masih ada peluang untuk berakibat demikian.

Bersambung, 

0 komentar:

Posting Komentar