Strategi Jitu Meraup Suara Generasi Milenial

JOURNAL NTB : Tinggal menghitung bulan bahkan hari lagi Pileg dan Pilpres akan berlansung. Para timses mengeluarkan semua jurus dan strateginya, begitu menggiurkan pesta demokrasi kita, dari pendaftaran Capres dan Pileg sudah mulai memanas, tidak ada ruang sejuk untuk membagi rasa kasih sayang kepada orang lain, yang ada kalian pilihan politiknya apa? bahkan tetangga rumahpun ketika beda pilihan disitu akan terjadi adu sentimen. Saya disini dalam posisi sebagai pelatih ayam bertelur, mau berbagi sekeping hikmah dan cara, yang kiranya bisa di pakai dan relevan untuk generasi milenial saat ini, karena ayam yang saya latih dalam usia sangat muda.

Pertama, langsung mendekati konstituen. Biasanya dilakukan melalui blusukan, temu kader, pengobatan gratis, atau mendatangi rumah ke rumah. Strategi ini butuh biaya dan juga waktu. Apalagi kalau daerah pemilihannya punya banyak gunung dan lembah. Bisa-bisa Anda gak jadi politisi, tapi jadi pendaki gunung.

Kedua, melalui tokoh berpengaruh. Sebab masyarakat kita masih patron-client sehingga sejumlah orang dianggap punya pengaruh ke orang lain. Tapi, cara ini juga berisiko transaksional. Sering kali tokoh berpengaruh tidak memberi dukungan secara gratis. Lain halnya kalau keluarga Anda pernah memberi utang pada tokoh itu. Dijamin gratis.

Ketiga, melalui media. Saya mencatat ada beberapa perubahan muncul dalam Pemilu ini. Di antaranya adalah kian meredupnya pengaruh media mainstream seperti koran. Dahulu, Anda cukup menjalin relasi dengan bos perusahaan media, atau redaktur, maka dijamin Anda akan terkenal. Sekarang strategi itu tidak bisa lagi jadi satu-satunya sandaran. 

Bahkan, sering beriklan di media online juga tidak bisa jadi strategi utama. Mengapa? Sebab media online tidak merinci dengan jelas iklan Anda dilihat berapa orang, dari daerah mana saja, apakah itu masuk dapil anda atau bukan.

Media online juga tidak memberi informasi sejauh mana out-take atau impresi orang-orang yang melihat iklan, juga tidak akan memberi informasi bagaimana outcome atau respon dan masukan orang-orang yang menyaksikannya.

Menurut saya, cara paling efektif dan murah untuk menyapa konstituen adalah melalui media sosial. Tak perlu mengeluarkan biaya sebesar membuat balio dan memajangnya di jalan-jalan. Cukup sedikit biaya untuk membeli kuota internet, juga fasilitas Google Adsense atau Facebook Ads.

Setiap saat Anda bisa menyapa orang-orang dan meyakinkan mereka untuk memilih Anda. Di situ, generasi milenial selalu berkumpul dan saling berbagi informasi, mulai dari makanan hingga pilihan politik. Jika dikelola dengan benar, postingan media sosial akan seperti air menetes yang secara perlahan akan membelah batu.

Beberapa pakar sudah menyatakan, pemenang Pemilu mendatang adalah mereka yang paling banyak didukung generasi milenial. Jika ingin memenangkan generasi milenial, maka masuklah pada ekosistem digital di mana generasi ini berkumpul. Karakteristik generasi ini adalah senantiasa aktif dan berinteraksi di media sosial. Kuncinya adalah kuasai media sosial.

Apakah waktu yang ada cukup? Iya. Waktu tujuh bulan hingga pemilu yakni April mendatang bisa efektif digunakan untuk memperbanyak postingan dan merancang konten bagus yang bisa viral dan membuat Anda disukai.

Di era media sosial, konten bagus ibarat currency atau mata uang yang akan membuat Anda terkenal. Content is the king. Konten adalah raja yang akan menentukan sejauh mana popularitas Anda di media sosial.

Tantangannya adalah bagaimana membuat konten yang bagus dan disukai, sehingga viral dan disebarkan ke mana-mana. Setelah punya konten yang disukai, langkah selanjutnya adalah perbanyak interaksi, kemudian bangun digital tribe atau kelompok relawan yang akan menjadi perpanjangan tangan Anda di media sosial.

Trend kampanye bagi dunia politik dan bisnis adalah soft campaign, yakni kampanye yang soft sehingga tidak terasa seperti kampanye. Selama ini kita mengenal hard campaign yakni serupa penjual obat yang memperkenalkan produknya dengan heboh sebagai produk terbaik. Di era soft campaign, orang tidak lagi spesifik menawarkan sesuatu, namun memberikan kebaikan, layanan, nilai, dan membangun relasi yang bermanfaat.

Dalam kaitan soft campaign, Anda tak perlu menjelaskan kehebatan Anda, tapi bagikanlah hal-hal sederhana yang bisa membuat orang tergugah. Caranya adalah hadirkan sesuatu yang mengejutkan, buat orang-orang bangga dengan dirinya bahkan sesederhana apa pun, buat mereka tertawa gembira dan bahagia ataupun sedih melalui apa yang Anda bagikan.

Kuncinya terletak pada story-telling yakni bagaimana bercerita dengan menarik sehingga disukai orang lain. Tak perlu rumit-rumit, mulailah dari cerita tentang Anda sendiri. Dalam perjalanan kehidupan setiap orang, selalu saja ada episode menarik, pengalaman, atau perjumpaan dengan sesuatu yang penuh menarik.

Bagikanlah kepada banyak orang pengalaman dan amatan itu. Berceritalah apa adanya, jangan terlalu mendewakan diri sebagai pahlawan, jadilah orang biasa yang berbagi hal biasa. Sesekali jadikan diri sebagai bahan olok-olok. Dengan cara ini, akan terbangun kedekatan sehingga orang-orang akan menyukai Anda.

Dalam konteks politik dan pemasaran, inilah yang disebut personal branding, yakni sejauh mana Anda mendefinisikan diri, dan bagaimana Anda ingin orang lain melihat Anda.

0 komentar:

Posting Komentar