Caleg Muda Ini Ingatkan, Indonesia Hari ini Krisis Generasi Muda Pertanian

Janapria-JournalNTB-Kedaulatan pangan dan kebijakan impor bahan pangan termasuk salah satu tema yang mengemuka dalam debat pilpres tahap dua pada Ahad lalu.

Di panggung debat, Prabowo mengkritik Presiden Jokowi soal kebijakan impor pangan dan berjanji apabila terpilih nanti akan menciptakan kedaulatan pangan serta berpihak pada kepentingan petani. Sementara Presiden Jokowi bertahan dengan mengatakan kebijakan impor tak dapat dihindari karena pemerintah butuh menjamin stabilitas harga bahan pangan di dalam negeri.

Tema debat kedua Capres tersebut ditanggapi menarik oleh salah seorang Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Lombok Tengah, Ahmad Jumaili, S. Pd.I.

Menurutnya, perdebatan kedua capres masih berputar ke soal-soal tekhnis dan belum menyentuh sisi paling mengkhawatirkan untuk mengantisipasi krisis pangan dimasa mendatang.

Jumaili menyebutkan, sisi yang paling mengkhawatirkan adalah ancaman krisis pangan yang diakibatkan semakin berkurangnya jumlah petani produktif serta minimnya minat generasi muda indonesia menggeluti dunia pertanian.

"LIPI menyebut, usia petani kita saat ini rata-rata 50 tahun keatas, usia yang sudah tidak produktif, sementara generasi muda yang minat ke pertanian sangat kurang" Tandasnya.

Jumaili yang sejak 7 tahun lalu juga mendirikan Sekolah SMK Pertanian di Ponpesnya ini mengungkapkan, jumlah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang mau masuk memilih jurusan pertanian sangat sedikit. Begitupun ketika mereka lulus, tak ada satupun yang minat untuk mengambil jurusan pertanian dikampus.

"Siswa yang masuk di jurusan ini sangat sedikit, mereka lebih berminat ke Jurusan Multimedia dan Pariwisata, padahal mereka rata-rata anak petani" Ungkapnya.

Paradigma petani sebagai jenis pekerjaan kelas dua dikatakan Jumaili masih menjadi faktor utama yang membuat generasi muda ini tidak tertarik menekuni pertanian. Masa depan petani dilihat tidak begitu menjanjikan dibanding dengan pekerjaan di sektor lain.

Untuk itu, Jumaili mengusulkan ada sentuhan-sentuhan kreatif dari Pemerintah seperti menyediakan fasilitas sekolah pertanian yang bermutu dan fasilitas-fasilitas lain yang menunjang kemudahan anak muda beraktifitas disektor pertanian.

"SMK-SMK pertanian perlu di perhatikan betul, soal fasilitas, mutu dan tenaga pengajarnya. Begitu juga sarana produksi dan pengembangan wirausaha tani berbasis tekhnologi, anak muda milenial kan akrab sekali soal ini, mungkin kedepan ada unicorn yang lahir di sektor ini" ungkapnya. [Dl/01]

0 komentar:

Posting Komentar