Zero Waste, Butuh Perhatian Serius Untuk Tepat Sasaran

Prof.DR.Fahrurrozi,MA.

Mataram.Journalntb.com-
Zero Waste adalah  program nasional dari pemerintah pusat yang di canangkan beberapa waktu yang lalu,  program ini sangat gencar di propagandakan kepada masyarakat oleh  Pemprov NTB. Semua media memberitakannya karena pemerintahan Gubernur NTB DR  Zulkiflimansyah bersama Wakil Gubernur tak henti-hentinya  bersetatment tentang Zero Waste,   sehingga semua pejabat pemerintah NTB  menjalankan perintah sang penguasa ini. Tapi perhatian itu sekarang mulai hilang seiring berjalanannya waktu. Zero Waste seakan perlahan hilang tidak ada sentuhan lagi.
Keberhasilan Pemerintah Provensi Nusatenggara Barat (NTB)  dalam menjalankan program Zero Waste menuai kritik dari beberapa element  masyarakat.

Prof. Dr. Fahrurrozi .MA. Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri  Mataram mengatakan kepada media di ruang kerjanya Senin (18/02/2020), 
Zero Waste masih jauh dari sasaran. 
Bagaimana tidak, masyarakat masih membuang  sampah di pinggir-pinggir sungai  yang seharusnya bukan tempat penampungan pembuangan sampah. Ini masih di lakukan oleh masyarakat NTB  khususnya di Kota Mataram dan beberapa daerah di Lombok Barat. Terangnya.

Akibat dari sampah yang  di buang di pinggir - pinggir sungai membuat kondisi lingkungan yang tidak sehat lagi. Akibat kejadian seperti ini Ironisnya kondisi sungai -sungai yang terdampak dari pembuangan sampah ini tidak bersih lagi. Air nya tercemar, kualitas air sungai menjadi buruk, belum lagi dampak pencemaran lingkungan, bau tidak sedap jadi suguhan masyarakat di sekitar TPS liar ini. Apalagi terlihat pemandangan yang tidak menarik dari tumpukan  sampah itu. 
Seperti yang terjadi saat ini banyaknya tumpukan sampah  di pinggir jalan-jalan protokol. 
Sampah menumpuk menjadi pemandangan yang tidak sedap di pandang mata. Apalagi yang melihat adalah wisatawan asing ataupun wisatawan lokal. Ini sangat Memalukan. Tambah Profesor.

Penampungan pembuangan sampah yang tidak terpantau dari luar. Seperti di  pinggir sungai Kali Ancar Pajang Timur  Kelurahan Pejanggik Kota Mataram. Sampah- sampah ini di buang seenaknya di pinggir bantaran sungai. Hingga sebagian sampah ini masuk ke sungai.

Persoalan penampungan sampah di Gomong hingga saat ini juga masih belum ada tindakan, padahal disekeliling tempat itu ada sekolah- sekolah, perkantoran, universitas, rumah sakit serta ruko-ruko. Aroma bau busuk setiap hari keluar dari penampungan sampah itu, dihirup ribuan pelajar, Mahasiswa dan pekerja di sana.

Sampah di pinggir sungai  jembatan Kapek sesela Rt 9 Rw 01 ini juga di buat membuang sampah. Padahal tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk mandi dan cuci baju. Sangat memprihatinkan. Ini salah satu contoh, masih banyak tempat - tempat pinggir sungai yang di buat untuk pembuangan sampah.

Akibat dari belum teraturnya pembuangan sampah ini. Program Zero Waste yang di gembar- gemborkan Gubernur NTB  dinilai banyak pihak sebagai program yang belum mengena pada sasaran. Program Zero Waste ini tidak sesuai dengan apa yang di harapkan, butuh waktu yang lama untuk merubah kultur masyarakat, yang jelas pemerintah harus serius karena masyarakat itu cenderung mengikuti peraturan penguasa. 

Dampak buruk jika persoalan sampah tidak terakomodir, Sebab  NTB dinobatkan sebagai salah satu kota wisata di nusantara. Mestinya dalam menyambut pembangunan NTB gemilang sebagai kota wisata harus di imbangi dengan kebersihan lingkungan. Sebagai contoh setandart adalah Kota Mataram, Lombok Barat dan Lombok Tengah sebagai tuan rumahnya nanti.  Apalagi di tahun 2021 mendatang Pemprov NTB harus menyelesaikan sirkuit F 1 di KEK Mandalika Resort Kuta Lombok Tengah. Rampungnya proyek sirkuit itu jelas di tunggu dunia untuk ajang balap bergengsi. Maka seharusnya pembangunan Kota wisata di imbangi dengan kebersihan Kotanya. Mulailah dengan menata pembuangan sampah di tempat yang seharusnya. Terang Profesor.( Sahnun )

0 komentar:

Posting Komentar