Soal Terdamparnya 80 Warga NTT, Gubernur NTB Didesak Segera Ambil Tindakan

Lombok Tengah, journalntb.com- Menanggapi nformasi terkait adanya penumpang warga NTT yang terdampar di NTB,  Pemuda Pancasila Perwakilan Lombok Tengah (Loteng) angkat suara.

Selaku Ketua, M Samsul Qomar mengaku, telah memperoleh informasi dari dinas terkait, bahwa sebanyak 80 lebih penumpang asal Nusa Tenggara Timur (NTT) akan terdampar di NTB.

Sebelumnya, Kepulangan para penumpang itu dari rangkaian jalur laut, ke daerahnya masing-masing. Terdamparnya para penumpang tersebut  di NTB, disebabkan adanya penolakan dari Pemprov NTT dan Pemerintah masing-masing kabupaten, di NTT.

Saat ini, sekitar 40 penumpang warga NTT telah berada di NTB. Jumlah penumpang tersebut, diperkirakan akan mengalami peningkatan dalam 1 sampai 2 hari kedepan.

Sehingga diprediksi para penumpang yang bernasib malang itu akan terdampar di Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima dan Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

Samsul menegaskan, keberadaan para penumpang asal NTT dapat memicu peningkatan jumlah penduduk dan berhujung pada penumpukan kebutuhan bantuan makanan di NTB.

Pasalnya, kedatangan para penumpang warga NTT, telah kehabisan bekal dan tidak memiliki stock makanan selama berada di wilayah NTB. Sedangkan masyarakat NTB sementara ini, masih membutuhkan banyak bantuan bekal dan makanan selama menghadapi kondisi darurat Pandemi Covid 19.

"Belum lagi kebutuhan kesehatan. Hal ini akan sangat beresiko, jika dibiarkan tambah banyak. bahkan yang lain akan berdatangan ke NTB. Memang di sisi kemanusiaan kita harus membantu, tapi kondisi darurat seperti, mau bagaimana. Sekali lagi Gubernur Harus menolak kedatangan orang luar, di NTB,"tegasnya Juma'at (17/04).

di sisi lain, Qomar menyinggung pelaksanaan pencegahan Covid 19 di setiap pintu masuk. Belakangan ini lanjut dia,  proses karantina yang dilakukan pemerintah daerah melalui tim gugus tugas Covid  19, dinilai kurang selektif dan berhati-hati. Seperti yang terjadi pada kelompok jama'ah tablig beberapa hari lalu.

Menurutnya, jama'ah tersebut semestinya di karantina khusus  sampai keluar hasil rapid test dan swab, sebelum di lepas untuk menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

"Ini sudah sampai 14 hari di rumahnya masing-masing, baru dilakukan penjemputan khusus dan yang jemput pakai pakaian astronot (APD,red).Dengan cara seperti itu masyarakat jadi tambah panik dan takut. Langsung saja sebenarnya dilakukan isolasi,"cetusnya.

Terlebih menjelang puasa. Tentunya akan semakin meningkat jumlah pemudik, baik Pekerja Migran Indonesia (PMI), maupun yang dari luar daerah NTB.

"Jangan tunggu virus menyebar baru diisolasi. Intinya menjelang Ramadhan ini pemerintah harus perketat pintu masuk NTB dari darat, laut dan udara,"tandasnya.(Sh)

0 komentar:

Posting Komentar