Bahar bin Smith Bebas Tiga Hari, ini Pesan Tokoh Agama dari Lombok (Bagian II)


Lombok Timur.journalntb.com-Bahar bin Ali bin Smith salah satu tokoh Front Pembela Islam (FPI), Sabtu (16/5), dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Namun tiga hari setelah dibebaskan, Selasa (19/5), Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Tajul Aliwiyin Bogor itu kembali ditahan, karena tidak mematuhi aturan pysical distancing di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Fenomena tersebut mendapat sorotan berbagai kalangan di tanah air, termasuk tokoh agama di Pulau "Seribu Masjid" Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pimpinan Ponpes Hamzanwadi NW Jerowaru, Lombok Timur TGH. Hasan El Wakani, Lc., Selasa (19/5), mengatakan bahwa tokoh agama dituntut mampu memberikan pemahaman keagamaan dan informasi menyejukkan.

"Sebagai tokoh agama, tokoh masyarakat, semestinya kita memberikan informasi yang dapat menyejukkan, dapat menggandeng kembali rasa persatuan di antara kita apalagi kalau kita sebagai seorang tokoh dalam menyampaikan himbauan informasi, kemudian dapat itu menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat," ungkapnya.

"Jangan justru sebaliknya, memprovokasi kemudian membuat kegaduhan di tengah masyarakat saat ini," imbuhnya.

Dikatakan, dalam menyikapi kondisi yang terjadi di tengah keresahan yang dialami masyarakat, terutama dengan mewabahnya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang berdampak kepada semua segi kehidupan, baik itu pribadi, ekonomi dan lain-lain. TGH. Hasan El Wakani berpendapat bahwa merupakan tugas dan tanggung jawab para tokoh, untuk memberikan informasi dan pemahaman atau pendapat keberagamaan.

"Pendapat keberagaman kita dalam memahami agama sebagai ilustrasi, bahwa dengan kondisi yang ada sekarang ini banyak masyarakat yang kadang-kadang cepat terprovokasi oleh hal-hal yang belum jelas kebenarannya. Bahkan masyarakat cepat sekali percaya dengan media-media yang tidak jelas, bahkan terkesan provokatif," ujarnya.

"Oleh sebab itu, sebagai tokoh agama, tokoh masyarakat, semestinya kita memberikan informasi yang dapat menyejukkan, dapat menggandeng kembali rasa persatuan di antara kita. Apalagi kalau kita sebagai seorang tokoh, hendaknya menyampaikan himbauan, informasi, kemudian dapat itu menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat. Jangan justru sebaliknya, memprovokasi kemudian membuat kegaduhan di tengah masyarakat," jelasnya.

Terkait kasus yang membelit Bahar bin Smith sehingga menjalani hukuman, kemudian dibebaskan karena adanya Program Asimilasi Pandemi Covid-19 dan kembali ditahan, alumni Timur Tengah itu berpendapat bahwa kasus itu seyogyanya tidak harus terjadi.

"Saat ini memang terjadi, saya lihat di media ada salah seorang Habaib atau Habib yang melakukan provokasi dan ditangkap kembali. Ini adalah contoh yang tidak baik dalam kehidupan kita, karena memang sebagai orang beragama harus memegang agama, karena agama itu adalah nasehat addînu huwannasîhah," tuturnya.

Ia menjelaskan, fungsi agama sebagai nasehat harus diterjemahkan dengan baik dan benar, sehingga dapat memberikan arah dan petunjuk kepada hal-hal yang baik dan mendatangkan manfaat.

"Jangan memprovokasi, jangan membuat kekacauan, kegaduhan, sehingga mudah-mudahan dengan kita memberikan informasi yang baik dan jelas, kemudian dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan masyarakat. Itu akan menumbuhkembangkan rasa perdamaian, persatuan di negara kita tercinta ini," tutupnya

Ditemui terpisah, Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Artanto, S.I.K., M.Si. menanggapi positif pernyataan-pernyataan para tokoh di Pulau Lombok. Ia menyakini, para tokoh agama dan tokoh masyarakat di daerah yang juga dikenal dengan "Serambi Madinah" ini, akan lebih bijak dalam memberikan pernyataan tentang suatu hal.

"Alhamdulillah, saya yakin kalau para ulama dan para pini sepuh di Pulau Lombok dan NTB secara umum, selalu mengeluarkan pernyataan yang bijak, sejuk, dan insya Allah bermanfaat bagi ummat," ungkapnya.

"Melalui kesempatan ini, di penghujung Ramadhan yang penuh berkah ini, mewakili Kapolda NTB, saya berpesan kepada kita semua untuk senantiasa menjaga kamtibmas, bijak bermedsos, dan ikuti anjuran pemerintah dalam pandemi Covid-19. Terakhir kami menyampaikan, Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1441 Hijriyah, mohon ma'af atas segala khilaf," tutup Kombes Artanto. (*)

0 komentar:

Posting Komentar