Ali Utsman : Kerugian Pabrik UD Mekar Hanya Rp 4,5 juta Akibat Aksi Pelemparan


PRAYA.Journal NTB.Com

Sidang Kasus Perusakan pabrik UD Mawar Putra oleh terdakwa Empat ibu rumah tangga (IRT) yang menjadi Viral kembali dihadirkan oleh kuasa hukum Terdakwa Ali Utsman Ahim dkk di PN Praya Kamis (25/2/2021). Kuasa hukum para terdakwa berharap majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Praya memegang prinsip restorative justice pada Sidang Putusan kasus IRT tersebut.

"Prinsip itu, menitikberatkan pada kondisi terciptanya keadilan dan keseimbangan bagi pelaku tindak pidana, Apalagi untuk kasus IRT pasal 170 KUHP  yang terapkan. Ancamannya lima tahun penjara, hanya kerugian 4.5 juta yg kemudian tidak ada bukti tanda tangan dari toko lalu bisa disimpulkan kerugian seperti dalam berkas perkara yg saya lihat, inj kan aneh."  jelas Ali Ahim kepada media usai sidang di PN Praya.

Pihaknya berharap majelis hakim memutuskan dan menetapkan, membebaskan Keempat IRT asal Dusun Eat Nyiur Desa Wajegeseng, Kecamatan Kopang.

"Jangan melihat dari sisi pasal 170 ayat 1 KUHP. Melainkan, dari sisi sebab dan akibat, Apalagj dalam kesaksian 4 IRT dikantor polisi saat penyidiikan dan penyelidikan mereka tidak didampingi pengacara, nah Negara dalam hal ini pihak polisi dan jaksa  harus menghadirkan kuasa hukum para terdakwa demi sebuah keadilan bagi setiap warga negara. " terang  Ali Utsman.
Lanjut Ali Usman,  Semestinya ada analisa kenapa ibu-ibu itu melakukan pelemparan pabrik tembakau," tegasnya.

Ali Utsman Optimis, eksepsi pada sidang ini akan menggugah hati nurani, pikiran, dan pemahaman semua pihak, bahwa keadilan selalu ada pada jalan Kebenaran, untuk kasus IRT ini saya punya prinsip saya akan Lawan  "Meskipun hukum itu buta, tapi keadilan akan melihat dalam kegelapan,"tegasya lagi.

Sementara itu, Fatimah satu dari empat IRT yang pernah merasakan penjara Polsek Praya Tengah dan Rutan Praya selama tujuh hari tujuh malam itu menceritakan, pelemparan batu yang dilakukannya, karena jengkel mencium bau tidak sedap dari pabrik tembakau tersebut,"saya spontas saja melempar menggunakan batu ukuran kecil, bukan besar," katanya.

Kenapa Aksi pelemparan itu, kata Fatimah diharapkan pemilik pabrik tembakau sadar memperhatikan kondisi lingkungannya. Sayangnya, tidak ada sama sekali. Alhasil, rekan-rekannya yang lain melakukan hal yang sama. Itu dari rumah masing-masing. Bukan dilakukan bersamaaan.

"Saya pernah ditawari bekerja dipabrik itu, tapi saya tolak," tegas Fatimah. Hal  Senada  diceritakan,  Hultiah (35) yang pertama dilaporkan pemilik Pabril tembakau tersebut yaitu, dia sendiri. Kemudian dalam Kesaksiannya dia menyebutkan nama rekan-rekannya yang lain.

Sementara itu, Mawardi suami dari Nurul Hidayah menceritakan, tidak menyangka karena selama seminggu, dia tidak pernah bersama istri di rumah. "Saya merasa kaget saja, kok tiba-tiba istri saya sudah di penjara di Polsek Praya Tengah," katanya.

Kata dia, Selasa pagi tanggal (16/2/2021) istrinya berpamitan untuk berobat dan mengecek kesehatan di Puskesmas Wajageseng bersama anaknya Yaman Wais Alkurni, yang berumur satu setengah tahun. Begitu siang, tidak ada yang pulang-pulang. Masuk sore hari, tidak juga muncul. "Tiba-tiba datang keponakan saya Asmayadi, suami dari Fatimah," Katanya. (O2jntb).

0 komentar:

Posting Komentar