Pengusaha UD Kijang Rinjani Bisa Habis 100 Ton Tembakau Pertahun


PRAYA.Journal NTB.Com-
Ditengah dominasi pasar atas rokok-rokok bermerek dari pabrik rokok besar, ternyata produk rokok rumahan masih bisa bertahan. Lihat saja rokok merek Kijang Rinjani produksi Asli rokok Dusun Pondok Ponde  Desa Barebali Kecamatan Batukliang yang tidak kehilangan penggemar yang membuat pabriknya terus mengebul.

Pabrik Pengepakan UD Kijang Rinjani merupakan satu dari sekian banyak produsen rokok pabrikan rumah tangga yang ada di desa Barebali kecamatan Batukliang. 

Dalam Acara Peninjauan Media ini mendapat kesempatan mengintip secara langsung aktivitas produksi rokok Racikan yg ada di dusun ponde desa Barebali ke Kecamatan Batukkiang milik H Nasir Selasa 
(2/03/2021).

 Sekilas, tidak seperti layaknya pabrik-pabrik rokok yang menggunakan teknologi mesin-mesin canggih.

Mesin yang dimiliki sederhana karena jenis produksi termasuk dalam kategori  diproduksi dengan tangan termasuk pengepakan.

"Merek rokok Racikan  kami adalah Kijang Rinjani.' ujar H Nasir Bos Tembakau itu dikediamannya.

H Nasur mengatakan, merek tersebut sudah terkenal ke daerah pulau Jawa,  per tahun bisa kita habiskan 80-100 ton.  sekitar 15 -17 orang pekerja di musim Pandemi ini, dia Karyawan bisa mendapat uang harian sekitar Rp 80 ribu rupiah.

"Jumlah pegawai pabrik ada 15-17 orang. Mereka kerja dengan gaji harian, tergantung jumlah pengepakan yang dia dapat." ujar Nasir.
"Setiap 1 bungkus eceran pengepakan di jual dengan harga Rp 5 ribu Rupiah sudah termasuk cukai rokok. 

Menurut Nasir, harga jual di tingkat distributor atau di pasar sekitar Rp 4 ribuan per bungkusannya. 

Meski untung tidak seberapa, rupanya industri rumah tangga ini masih bisa bertahan ditengah kondisi ekonomi seperti sekarang ini.

"Alhamdulillah, sejauh ini kami masih bisa produksi," ujar Nasir.

Dengan volume produksi yang tidak begitu besar, namun merek Rokok Pengepakan Kijang Rinjani laris manis.

"Distribusi merek kami terutama di Lombok Tengah, Lombok Timur, Mataram, KLU, Lombok Barat bahkan Daerah Jawa sudah terkenal," ujar Nasir.

Di sisi lain, keberadaan perusahaan ini juga memberikan pemberdayaan ekonomi pada masyarakat sekitarnya. selain memiliki pabrik yang sudah ada, H Nasir  juga memiliki lahan yang saat ini dibangun pabrik  tembakaunya sendiri." Kami sedang mengurus ijin untuk pabrik berikutnya." Jelas H.Nasir. Masyarakat sekitar pun menilai keberadaan UD Kijang Rinjani  adalah suatu bentuk mutualisme ekonomi, terutama dalam memberi mata pencaharian alternatif apalagi Dimas pandemi.
Mayoritas mata pencaharian penduduk sekitar pabrik adalah di sektor pertanian dan perkebunan. Nah, hampir semua pekerja proses  pengepakan di pabrik pak H Nasir adalah ibu-ibu rumah tangga.

"Dengan adanya pabrik ini, waktu luang kami bisa dimanfaatkan untuk mendapat pemasukan tambahan," ujar salah seorang pegawai pabrik.

Secara pribadi, H Nasir adalah seorang pengusaha yang patut dicontoh. Ia sama sekali tidak tergoda menggunakan pita cukai palsu.

"Wah, sama sekali nggak kepikiran Untung nggak seberapa, kalau ketahuan bisa-bisa rusak semua usaha kami selama ini," pungkas H Nasir. (RdiJntb).

0 komentar:

Posting Komentar