Petani Tembakau menangis, Meratapi nasip , Harga tembakau merugi

Journal ntb Memasuki panen raya tembakau  tahun ini, sejumlah petani tembakau di Lombok tengah dan , Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) harus merugi hingga ratusan juta rupiah lantaran harga tembakau mereka anjlok 70 persen dari harga normal.

Merosotnya harga tembakau tidak hanya menjadi beban baru bagi ekonomi para petani, namun juga mengancam modal produksi mereka pada musim tanam berikutnya. Pasalnya, selama bercocok tanam mereka sudah mengeluarkan biaya besar, baik saat pengolahan lahan, perawatan dan pemupukan maupun biaya pemetikan dan pemrosesan daun basah menjadi kering, di tambah lagi saat penanaman harga pupuk sangat mahal dan langka, Kelangkaan Air waktu penanaman , membuat petani menagis ,menjerit dan nasip baik tidak berpihak kepada petani itu sendiri,

Amaq Mia dan Amaq Jusna , salah seorang petani tembakau di wilayah Praya Timur dan janapria  mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab menurunnya harga tembakau tahun ini. Para petani bahkan merasa kaget dengan rendahnya harga tembakau mereka, padahal kualitas daun tembakau hasil panen musim ini semakin baik.

"Semua petani sekarang ini menangis kalau ditanyakan harga tembakau, kita rugi total saking anjloknya, padahal jika dibandingkan di tingkat pabrik harganya malah norma-normal saja," keluh Amaq Mia saat di wawancarai media Minggu  (29/8).

Pria yang akrab disapa Amaq Mia dan Maq Jus  ini menerangkan, harga tembakau normal di tingkat petani biasanya berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram. Namun kini harganya merosot tajam menjadi Rp10 ribu per kilogram bahkan bisa lebih murah dari itu tergantung kualitasnya,


"Tahun ini kita hanya bisa pasrah, karena kalau tembakaunya tidak kita jual meskipun harganya miring nanti kita mau makan apa, kalau dihitung ruginya sampai ratusan juta," imbuhnya sambil berkaca kaca tersedih.

Setiap tahun, Mereka  mengaku kerap mengalami penurunan harga tembakau, hanya saja tahun ini harganya jauh lebih murah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Harga tembakau diakui Mereka nyaris tidak pernah berpihak kepada para petani, sebab, yang bisa menentukan naik turunnya harga tembakau hanya perusahaan besar sekalipun kebutuhan rokok meningkat diiringi dengan harganya yang setiap tahun semakin mahal, namun petani diwilayahnya tidak pernah merasakan manisnya keuntungan dari hasil menanam tembakau, yang ada hanyalah bayang-bayang kerugian setiap kali mereka memasuki masa panen.


"Setiap kali kita memasuki masa panen, kita selalu berdoa agar harga tembakau mahal, namun kenyataannya, harga tembakau ini jarang membuat kita tersenyum. Bagaimana tidak, harga tembakau ini hanya perusahaan yang bisa ngatur semaunya mereka," cetusnya. Tembakau adalah salah satu barang yang harganya di patok pembeli,

Ama Mia dan para petani yang lain berharap agar pemerintah segera mencarikan jalan keluar untuk menstabilkan harga tembakau mereka, karena jika terus menerus dibiarkan, para petani terancam tidak akan berani menanam tembakau lagi.

"Kita berharap pemerintah ini bisa menekan harga tembakau di tingkat perusahaan karena hanya melalui itu kita jadi tidak merugi, dan harga tembakau ini tidak semena-mena dipermainkan," tutupnya.

Para petani yang di jumpai media ini rata - rata  minta kepada pemerintah untuk segera ambil tindakan jangan terus menerus petani yang jadi  korban,  Jangan biarkan para petani meratapi nasip dengan kerugian yang berlipat lipat, Pemerintah tunjukan taringnya untuk bisa membela petani .

(Rois)

0 komentar:

Posting Komentar