Dispar Berikan Pelatihan Bagi Marbot dan Pengelola Wisata Serta Kebersihan Toilet


Lombok Tengah.JournalNTB.Com. Toliet merupakan sarana vital dalam pengelolaan pariwisata, karena itu kebersihan toilet menjadi hal yang utama dilakukan oleh pengelola destinasi wisata karena itu para pengelola harus benar benar terlatih dalam menjaga dan merawat toilet. Kadis Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah H.Lendek Jayadi mengatakan salah satu aminitas pariwisata adalah toilet baik di Masjid Musholla maupun di kawasan wisata. 
Toilet merupakan sarana yang menjadi prioritas sebab toliet menjadi hal yang sangat vital. Kalau dalam satu kawasan tidak memiliki toilet minimal toliet umum maka dampaknya sangat besar baik bagi kesehatan masyarakat umum ataupun Wisatawan. Maka belajar mengelola Toliet mulai dari rumah sendiri. Kenyataan di lapangan, Lendek menilai standar toliet yang layak pakai belum terlihat, kalaupun sudah memenuhi standar namun hanya beberapa tempat. Pada kesempatan itu juga diundang Marbot Masjid sebagai pengelola sarana prasarana di Masjid. Di kota kota besar di negara negara maju, Toilet menjadi hal yang sangat pundamental dalam pengelolaan pariwisata, sebab citra pariwisata salah satunya tergantung dari kebersihan toilet."Sederhana kita berpikir, kalau di dalam toilet rumah sendiri tidak bersih maka perilaku kita diluarpun saya yakin juga tidak bersih" ujarnya saat membuka kegiatan Pelatihan Pengelolaan Toliet di Destinasi Wisata Kabupaten Lombok Tengah bertempat di JM Hotel Kuta Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. 
Untuk merubah perilaku yang kurang baik harus dimulai dari diri sendiri dan hal hal yang kecil dan mulai dari sekarang. Sebab jika tidak dibiasakan dan diajarkan dari sekarang maka sampai tuapun perilaku kurang bersih akan tetap ada pada diri masing-masing.
Menurut Lendek, Misi pariwisata adalah merajut silaturahmi, yang belum datang kita upayakan datang, ketika datang dia menjadi tamu yang harus diistimewakan, datang sebagai keluarga pulang'pun sebagai keluarga untuk itu para tamu harus disuguhkan hal hal yang membuatnya tertarik dan betah di kawasan wisata itu. Salah satunya selain keramah tamahan masyarakat dan pengelola tetapi juga sarana dan prasarana yang memadai seperti halnya keberadaan dan kebersihan toilet. "Kalau wisatawan itu nyaman, aman, maka mereka akan betah, sebaliknya kalau mereka hanya sebentar maka berarti mereka tak betah, mungkin soal penyambutan kita yang kurang baik dan sarana prasarana kita yang kurang memadai" ungkapnya. 
Dalam sesi diskusi, sejumlah pengelola destinasi mengeluhkan kesadaran masyarakat ataupun pengunjung.
Rusdiono pengelola TWA Aik Bukak mengatakan selama ini yang menjadi masalah adalah pengelolaan sampah. Sampah diperoleh dari wisatawan yang berkunjung ke Taman Aik Bukak, sementara belum ada Armada untuk mengangkut sampah khususnya sampah non organik. Hal yang sama juga diungkapkan Lalu Atma Pengelola Wisata Bahari Mawun Desa Tumpak Kecamatan Pujut.
Menurutnya kesadaran masyarakat atau pengunjung masih sangat rendah sementara armada angkut belum dimiliki. Ada tiga Sumber sampah di wilayah Mawun yakni Sampah yang dihasilkan dari masyarakat, dari pohon dan dari laut sendiri. "Sudah banyak himbauan kita tempel namun belum ada kesadaran" ujarnya. Selain itu MCK juga masih kurang sehingga terjadi antrean cukup panjang. Dia berharap agar ada penambahan MCK."ujarnya. Sedangkan Abdul Waris Pengelola Masjid Rambutan mengatakan Masjid Rambitan setiap pulang berwisata ke Kuta Mandalika ataupun ke tempat lain selalu mampir di Masjid untuk mandi ataupun ganti pakaian, namun bukan menjaga kebersihan akan tetapi malah mengundang sampah lebih banyak lagi. "Kadang ke Masjid untuk ganti baju dan ganti Pampers anaknya serta pembalut serta buang hajatnya, sampah tak dibawa lagi malah ditumpuk di tempat sampah" ungkapnya. Dia berharap agar pemerintah daerah memberikan bak bak sampah untuk menampung sampah masyarakat itu. (jntb)

0 komentar:

Posting Komentar